Page 1
Standard

Stereotipe

Terkadang, kita telah mengecap orang berdasar pada apa yang terlihat saja. Seperti “Wah, dia sering ikut olimpiade, pasti dia kutu buku aneh,” atau “Dia anak pecinta alam? waduh, pasti nakal.” Dan pendapat kalian tersebar. Yang pada akhirnya akan menyusahkan orang yang mungkin ‘salah’ kalian nilai.
Kadang, apa yang kita lontarkan tidak kita sadari dapat melakukan hal seperti itu. Maka dari itu mulutmu adalah harimaumu. Pernahkah kalian dalam posisi itu?. Posisi dimana kalian menjadi topik pembicaraan yang kalian tidak ketahui. Rasanya tidak nyaman bukan bila seandainya pembicaraan itu bicara tentang kamu yang buruk?. Menurut saya menilai orang itu adalah hal wajar, tapi ada baiknya bukan bila kita menilai setelah mengetahui luar dan dalam orang tersebut. Siapa tahu, mungkin seseorang yang anggap kamu aneh, akan menyelamatkan hidupmu suatu saat. Siapa tahu juga, orang yang kamu benci memiliki ide-ide cemerlang sepertimu. Nah, walaupun kita tidak suka atau merasa aneh dengan orang bukankah lebih baik kita bersikap baik padanya dan tidak membicarakan keburukannya. Dan jika kamu ingin membicarakan keburukannya sebaiknya kamu mencari sebuah solusi agar ia tidak bertambah buruk, bukan menjadikannya hanya sekedar gunjingan belaka. Karena kamu tidak tahu sisi lain hidupnya. Selamat pagi :)

Standard

Mengeluh di Sosmed

Abad 21 diwarnai dengan kemudahan menyalurkan pendapat dalam berbagai media. Salah satunya sosial media yang sedang heboh di negara ini karena pengaruh globalisasi. Berbagai postingan dapat kita akses dari seputar politik, hukum hingga kegalauan seorang remaja labil. Tidak sedikit pula, postingan berupa saran, kritik atau yang lebih parah sebuah sarkasme dan cemooh pada sistem yang kita anut saat ini.

Banyak diantara postingan keluhan itu sangat bagus hingga mengundang banyak ‘like’ dari pengguna sosial media lain. Banyak pula yang malah mendapat respon buruk dan di cemooh balik dengan pengguna sosial media lainnya. Beberapa diantaranya malah terkesan konyol dan tidak masuk akal sehingga membaca saja enggan.

Dengan banyaknya posting semacam itu apakah terkesan bangsa kita adalah bangsa yang pengeluh?. Memang sebuah keluhan itu perlu, namun apakah harus berlarut-larut seperti demikian?. Apalagi dengan menyebarluaskannya di sosial media. Tidak tahukah kamu bahwa posting kalian dapat diakses dimana saja?. Tidak semua pendapat pantas kita post di sosial media. Kita harus menyaring apa yang akan kita post terlebih dahulu. Sudah cukup buruk, bangsa ini mengolok-olok bangsanya sendiri. Bukankah sebuah masalah seharusnya di selesaikan bukan di eluh-eluhkan?. Meski kita tidak tahu jalan keluarnya, bukankah lebih baik kita diam dan mencari jalan yang terbaik daripada menjelek-jelekkan bangsa kita sendiri?.

 

Standard

Molor


“Acaranya jam 8 datang jam 9 aja, deh.” Siapa yang tidak pernah mengucapkan kalimat itu?. “Molor” atau telat adalah kebiasaan yang sudah menjadi dalam budaya kita. Bukankah aneh, sebuah kebiasaan buruk yang berubah menjadi budaya?. Seringkali, kita malah menyalahkan “molor” itu sendiri karena menganggu aktivitas kita, tapi coba pikir kembali kira-kira siapa penyebab “molor” itu?.

Banyak alasan mengapa kita sering “molor” yang rata-rata disebabkan ‘keadaan’. Misalnya jalan yang macet atau kendaraan yang tiba-tiba rusak di tengah jalan. Namun coba berpikir kembali, jika hal itu dapat terjadi kapan saja mengapa kita tidak melakukan antisipasi?. Contohnya, dengan berangkat lebih awal.

Beberapa alasan lain mengapa kita “molor” adalah karena kita ingin ‘melewatkan’ sesuatu. Bila kalian adalah salah satu yang berpikir seperti ini maka coba pikir kembali, bila semua undangan dalam suatu acara berpikiran sama seperti kamu, apakah acara yang ingin kamu ‘lewatkan’ dapat kamu lewati? Bukankah sama saja kamu tetap melewati rangkaian acara yang sama namun hanya berbeda waktu?. Lagipula melewatkan sesuatu ibarat melewatkan satu keping puzzle. Yap, kamu belum tentu mendapatkan inti dari acara tersebut.

Disiplin waktu menurut saya adalah hal yang hilang dari kehidupan kita. Padahal, waktu itu sangat mahal harganya. Sayangnya, kita malah menyia-nyiakannya dengan budaya baru bernama “molor”.

 

Standard

Candu Ponsel

Apa hal pertama yang rata-rata orang cek setiap baru bangun?. Yap, ponsel. Ponsel sudah seperti bagian dari hidup kita. Kalau ponsel kita mati, rusak atau parahnya, hilang, serasa tangan gatal ingin menggenggam benda kotak yang serbaguna itu.

Tapi seberapa parah, sih candu kita terhadap ponsel?. Inget ga, youtube commercial yang mengiklankan timer lock ponsel agar kita bisa bicara dengan pasangan kita?. Kira-kira seperti itulah candu kita pada ponsel, bahkan yang terkasih pun diabaikan hanya untuk mengecek notifikasi dari instagram atau sekedar scrolling sosmed.

Coba perhatikan apa yang rata-rata orang lakukan waktu menunggu? Lagi-lagi main ponsel mereka masing-masing. Seringnya kita memperhatikan ponsel kita membuat kita mengabaikan lingkungan dan orang orang di sekitar kita. Basa-basi selama menunggu di halte sudah merupakan hal yang jarang. Bahkan saat mengemudi, saat dimana kita harus benar-benar fokus pada jalan yang kita lalui, tak jarang beberapa dari kita malah sibuk memperhatikan chat yang baru masuk. Nyawa jadi taruhannya.

Walau sudah banyak peringatan (yang kadang-kadang disertai dengan bukti-bukti ilmiah) terhadap bahaya ponsel, namun kita biasanya hanya membaca lalu membiarkannga tertumpuk di antara posting2 yg lebih menarik pada timeline kita. Dan saat membaca peringatan-peringatan itu yang kita rasakan hanya ngeri lalu 2 menit lagi kita sudah lupa akan peringatan itu.

Mungkin kita akan sadar ketika mata tidak bisa melihat dengan baik karena terbiasa menatap ponsel atau mungkin ketika tangan tidak mampu menggenggam ponsel akibat kecelakaan yang disebabkan candu tersebut. Mungkin semua itu tidak akan terjadi, karena kita berusaha mengurangi kebiasaan itu mulai dari sekarang.